Tuesday, December 13, 2005

TIPS CARA MENGHITUNG UANG PERTANGGUNGAN ASURANSI JIWA

Pada artikel minggu yang lalu telah kita bicarakan secara umum tentang asuransi, pentingnya asuransi dalam perencanaan keuangan, jenis-jenis asuransi dan bagaimana kita memilihnya serta bagaimana memilih perusahaan asuransi. Dalam artikel berikut kita akan bersama-sama masuk lebih detil lagi yaitu bagaimana menghitung nilai uang pertanggungan sesuai dengan kebutuhan. Sekali lagi ingin kami ingatkan bahwa asuransi jiwa adalah sebuah perencanaan. Tujuan dari pembelian asuransi seharusnya bukan seperti halnya membeli produk lain yang bisa langsung dipakai, asuransi bukanlah sebuah produk seperti itu. Karena, seseorang membeli asuransi bukan untuk digunakan saat ia membeli asuransi tersebut. Jika seseorang mau membeli asuransi untuk langsung dipergunakan, maka mungkin ia sudah merencanakan untuk bunuh diri atau melakukan tindakan kriminal lainnya. Mengapa membeli asuransi ? Paling tidak kami menemukan 3 (tiga) alasan mendasar alasan mengapa orang tidak/belum mau membeli asuransi. Pertama, ia belum melihat asuransi merupakan kebutuhan hidupnya, karena ia belum mempunyai uang yang cukup untuk itu. Apa yang menjadi pusat perhatiannya saat ini adalah mencukupi kebutuhan dasarnya. Keadaan ini sesuai dengan sudut pandang tingkat kebutuhan versi Abraham Maslow, yang menempatkan security needs (termasuk didalamnya asuransi) berada pada tingkatan kedua, setelah kebutuhan dasar. Alasan ini mudah dimengerti, karena bagaimana orang akan membeli asuransi jika untuk makan-minum dan kebutuhan sehari-hari saja masih belum dapat tercukupui. Kedua, keadaan ekstrim lainnya yaitu orang yang sudah banyak sekali memiliki uang/aset sehingga tidak memerlukan lagi membeli asuransi untuk menutupi risiko yang mungkin timbul. Dalam pandangannya, jumlah harta yang bejibun dan aset-aset produktif yang menghasilkan uang tanpa harus bekerja itu telah menjadi proteksi yang membuat asuransi tidak diperlukan lagi bagi dirinya. Ketiga, orang yang tidak begitu memahami apa manfaat yang mungkin diperoleh jika ia membeli asuransi. Termasuk dalam kelompok ketiga ini orang-orang yang mengatakan membeli asuransi itu berarti meramalkan kematiannya atau mereka yang mengatakan "Hidup dan mati itu ditangan Tuhan. Mengapa harus dipikirkan." (pada hal asuransi tidak mempersoalkan kematian itu an sich, karena yang dipersoalkan atau diantisipasi adalah apa yang terjadi setelah kematian tersebut, dan dampak bagi orang-orang hidup yang terkait dengannya seperti pasangan hidup, anak, dan keluarga). Jika terjadi kematian pada seseorang, sementara orang tersebut adalah pencari nafkah utama di dalam keluarganya, maka akan hilanglah sebagian besar pendapatan, atau mungkin bahkan seluruh pendapatan yang diterima oleh keluarga. Yang kemudian terjadi dalam waktu dekat akan terbayang sebuah keluarga yang tidak mendapatkan atau berkurang pemasukan bulanannya secara significant. Akibat yang segera dirasakan adalah tingkat kesejahteraan hidup dan standar gaya hidup mulai terganggu, apalagi jika kemudian datang berbagai tagihan hutang almarhum, tagihan kartu kredit, tagihan biaya pengobatan yang belum dibayar, biaya pemakaman, dan sebagainya. Jangankan mereka yang sama sekali tidak memiliki asuransi jiwa, keluarga yang sudah membeli asuransi jiwa pun masih mungkin terganggu secara finansial jika tiang penopang utama keluarganya meninggal dunia. Cara menghitung uang pertanggungan asuransi. Baiklah kita mengambil satu contoh kasus, Anton (sebut saja demikian) sudah membeli asuransi jiwa dengan jumlah santunan kematian Rp 100 juta. Namun setelah ia wafat, ternyata ia masih memiliki hutang yang harus segera dilunasi sebesar Rp 150 juta. Sehingga ia bukan meninggalkan kesejahteraan (melalui asuransi yang dimilikinya) kepada keluarga yang ditinggalkannya, melainkan beban penderitaan. Dari contoh keadaan ini, mereka yang sudah memiliki asuransi pun masih perlu memikirkan sejauh mana jumlah santunan kematian yang mungkin diterima keluarganya kelak akan mencukupi berbagai kebutuhan dan kewajiban secara menyeluruh. Sampai disini kita mungkin bertanya, apa saja faktor-faktor yang perlu diperhitungkan ketika seseorang (anda) merencanakan untuk membeli asuransi? Berikut, empat hal yang dapat dipertimbangkan sebagai faktor yang perlu diperhitungkan dalam menentukan jumlah uang pertanggungan, Pertama, berapa jumlah hutang yang anda miliki?; kedua, berapa banyak aset/harta yang anda tinggalkan untuk keluarga?; ketiga, berapa lama aset tersebut dapat menghidupi mereka tanpa harus menurunkan standar gaya hidup mereka?; dan keempat, berapa banyak dana yang diperlukan untuk membiayai kehidupan anak-anak anda sampai mereka menjadi dewasa dan mandiri, termasuk biaya pendidikan mereka? Mari Berhitung! Berikut kami berikan gambaran dan contoh sederhana cara menghitungnya : Pendapatan : Pendapatan Anda : Rp. - (pendapatan yang hilang) Pasangan Anda : Rp. 12.000.000 (asumsi pendapatan per tahun) Pendapatan Investasi : Rp. 2.000.000 (asumsi per tahun) Jaminan perusahaan : Rp.- (syukur kalau ada) Total Pendapatan : Rp. 14.000.000 (A) Pengeluaran : Biaya rumah tangga : Rp. 26.000.000 (B) (asumsi per tahun) Surplus/ (defisit) : Pendapatan – Pengeluaran : (Rp.12.000.000) (A - B) Dari perhitungan di atas terlihat akan terjadi kekurangan untuk menutupi biaya hidup keluarga Anda jika pendapatan Anda hilang, sehingga harus dicari jalan bagaimana agar kekurangan tersebut dapat dipenuhi. Berikut ini tiga hal yang perlu diperhitungkan dengan teliti. Pertama, proyeksikan kebutuhan dana/aset untuk menutupi kebutuhan kekurangan (defisit) yang terjadi seperti contoh perhitungan diatas. Sedikitnya ada dua cara untuk menghitung kebutuhan ini, yakni: cara pertama, dengan menetapkan berapa lama dana tersebut dapat menghidupi keluarga dengan tetap mempertahankan standar hidupnya. Nilai ini bisa bervariasi jumlahnya, tetapi paling tidak kami sarankan minimum 2 tahun. Hal ini dengan pemahaman bahwa dalam dua tahun tersebut mereka dapat menyesuaikan diri atas perubahan- perubahan yang terjadi akibat 'kepergian' tiang keluarga. Sebagai contoh, jika Anda ingin mereka tetap mempertahankan gaya hidup yang sama paling tidak dalam 5 tahun kedepan, maka Anda kalikan kekurangan tersebut dengan 5 (Rp 12.000.000 x 5 = Rp 60.000.000); Cara kedua, dengan menetapkan suatu jumlah dana dimana jika jumlah tersebut diinvestasikan dapat memberikan pendapatan sebesar kekurangan diatas tersebut. Contohnya, jika instrumen investasi yang dipilih (sebaiknya Deposito) menghasilkan pendapatan bersih rata- rata 10% per tahun, maka Anda membutuhkan dana sebesar Rp. 120.000.000, untuk mendapatkan kekurangan Rp. 12.000.000 pertahun (Rp. 120.000.000 x 10 % = Rp. 12.000.000, tanpa memperhitungkan soal pajak). Jadi, ada dua nilai yang dapat Anda pertimbangkan untuk memenuhi kekurangan akibat hilangnya pendapatan Anda yaitu Rp. 60.000.000 atau Rp. 120.000.000. Kedua, perhitungkan hutang-hutang anda saat ini, baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka menengah-panjang. Perlu diingat bahwa proyeksi kebutuhan dana/aset yang telah dihitung di atas hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja. Jadi, hutang harus diperhitungkan secara tersendiri agar dapat diselesaikan dengan baik pada waktunya. Contoh : Hutang kartu kredit : Rp. 1.000.000 Hutang kredit kendaraan : Rp. 20.000.000 Hutang KPR : Rp. 50.000.000 Hutang bisnis : Rp. 50.000.000 Hutang lain-lain : Rp. – Total hutang : Rp. 121.00.000 Ketiga, perhitungkan biaya membesarkan anak, terutama biaya pendidikannya. Kalkulasi ini memerlukan perhitungan tersendiri, karena menyangkut berbagai hal (jumlah anak, usia anak, dan sebagainya). Namun, paling tidak Anda diingatkan bahwa hal ini juga perlu diperhitungkan untuk dimasukkan ke dalam nilai pertanggungan asuransi jiwa Anda. Untuk sementara kita asumsikan saja jumlahnya sebesar Rp. 200.000.000. Dengan contoh dan asumsi di atas, maka kebutuhan nilai proteksi anda adalah: Dana/asset untuk biaya hidup keluarga : Rp. 120.000.000 Dana untuk menutupi hutang : Rp. 121.000.000 Dana pendidikan anak : Rp. 200.000.000 Total : Rp. 441.000.000 Proteksi yg sudah dimiliki : Rp. – Proteksi Yang masih dibutuhkan : Rp 441.000.000 Inilah jumlah Nilai Uang Pertanggungan yang dibutuhkan. Bagi siapa saja yang penghasilan bulanan keluarganya (suami-istri) kurang dari Rp 30 juta per tahun (Rp 2,5 juta per bulan), jumlah tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar: berapa besar premi yang harus dibayar untuk memperoleh Uang Pertanggungan sebanyak itu dan apakah akan mampu diupayakan? Besarnya jumlah nilai proteksi atau uang pertanggungan yang harus dipersiapkan tidak perlu sampai membuat anda distress (tertekan dan cemas berlebihan), sepanjang anda ingat bahwa pada dasarnya asuransi adalah sebuah perencanaan. Artinya, anda dapat merencanakan untuk membeli asuransi jiwa dengan jumlah premi tertentu secara bertahap. Urutan prioritasnya kami usulkan sebagai berikut: pertama, belilah asuransi jiwa dengan jumlah uang pertanggungan (dan premi) yang bisa menutupi seluruh hutang-hutang anda, agar sekurang-kurangnya anda tidak mewariskan hutang kepada generasi berikutnya; kedua, bila hutang-hutang sudah diamankan, maka belilah asuransi jiwa berikutnya untuk mengamankan kebutuhan hidup keluarga sehari-hari untuk rentang waktu tertentu, terhitung sejak anda meninggal dunia; dan ketiga, pada tahap berikutnya, yakni jika anda telah berhasil mengumpulkan sejumlah uang tambahan, belilah asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan yang bisa memenuhi biaya-biaya membesarkan anak- anak anda, termasuk biaya pendidikannya. Jadi, meski tentu tidak mudah mengaturnya, namun dengan perencanaan yang matang, hal di atas tetap dimungkinkan (kecuali Tuhan berkehendak lain, tentu). ===================== POJOK `PESAN' (PEtuah Solusi KeuangAN) EUREKA 1. Keberhasilan membangun keluarga yang sebenarnya (sejati) bukanlah terlihat pada saat anda masih bersama-sama mereka, akan tetapi lebih pada saat anda sudah tidak lagi bersama-sama mereka. 2. Sebesar apapun beban finansial yang harus dipikul, akan lebih mudah diselesaikan apabila melalui perencanaan dan biasanya dimulai dari langkah-langkah kecil yang setia. 3. Dalam hal mencukupi kebutuhan finansial keluarga, lebih baik menyesal pada saat masih dapat memperjuangkannya, dari pada menyesal pada saat sudah tidak mungkin lagi mengusahakannya. 4. Seringkali orang terlalu besar mengharapkan orang lain membantu menetapkan dan mengatur instrumen keuangan bagi diri dan keluarganya, tetapi sebenarnya dirinyalah yang paling tahu dan harus menentukan sendiri. 5. Merancang asuransi keluarga adalah sebuah perencanaan yang memerlukan ketekunan dan kesungguhan yang akan membuktikan seberapa dalam tanggungjawab dan kecintaan pada keluarga. 6. Tidak ada seorangpun karena kekuatirannya akan dapat menambah sehasta saja jalan hidupnya, karena itu hadapilah kekuatiran itu dengan langkah-langkah terencana, tekun dan bersungguh-sungguh.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home