Monday, December 05, 2005

Sekolah Lagi: Inikah Saat yang Tepat?

Jika ingin meraih sukses yang berkelanjutan, menambah pengetahuan dan keterampilan sangatlah penting bagi kita semua apa pun bidang yang kita tekuni. Walaupun kita sudah memiliki banyak pengetahuan dan keterampilan yang telah dipupuk selama bertahun-tahun bekerja di lapangan, pengetahuan baru, keterampilan baru, teknologi baru, ide- ide baru, pendekatan-pendekatan baru akan selalu muncul. Agar tidak ketinggalan kereta, senantiasa meningkatkan diri bukan lagi merupakan pilihan, melainkan sudah merupakan keharusan. Salah satu alternatif dari peningkatan pengetahuan dan keterampilan adalah kembali ke bangku sekolah, karena di sinilah ide-ide baru muncul, konsep-konsep baru dibahas, dan teknik-teknik baru diperkenalkan. Untuk memasuki dunia sekolah yang sudah lama ditinggalkan, tentunya kita perlu persiapan, pengetahuan dan strategi khusus, agar kembali ke sekolah menjadi lebih mudah dan lebih menyenangkan. Mengapa kembali ke sekolah? Mungkin sekarang kita sudah yakin bahwa belajar merupakan keharusan. Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah sekarang saat yang tepat untuk kembali ke sekolah? Pengangguran. Beberapa waktu yang lalu, 10.000 pencari kerja memadati gedung Jakarta Convention Center yang menggerai bursa kerja dengan menawarkan sekitar 4.000 kesempatan kerja. Pastilah ada sekitar 6.000 orang (60%) yang tidak kebagian "kue" kesempatan kerja. Sekitar 4.000 yang terpilih dari event ini tentunya memiliki "nilai tambah" (keterampilan dan pengetahuan tambahan) yang tidak dimiliki pencari kerja lainnya. Nah, jika kita tidak meningkatkan diri, pada saat kesempatan yang sama ada di depan mata, akan sulit bagi kita untuk meraih sukses. Persaingan. Dengan masih merangkaknya perekonomian Indonesia saat ini, pertumbuhan ketersediaan kesempatan kerja tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah pencari kerja. Selain pengangguran, dampak lainnya adalah persaingan yang semakin ketat di antara pencari kerja, bahkan di antara mereka yang ingin mempertahankan pekerjaan. Kondisi ini lebih diperburuk lagi dengan dibukanya "jalan tol" bagi arus lalu lintas tenaga kerja regional, bahkan internasional. Tingkat pendidikan yang rendah, dan pengetahuan serta keterampilan yang minim dapat dengan mudah membuat kita tersingkir dari persaingan di dunia kerja. Untuk tetap berada di arena dunia kerja, mereka yang berbekal cukupun (tingkat pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan yang cukup) harus berbenah diri dengan meningkatkan pendidikan dan menambah pengetahuan serta keterampilan agar bisa tetap eksis apalagi untuk tetap meraih sukses. Dinamika dunia bisnis. Teknologi informasi telah merevolusi dunia bisnis di segala aspek. Untuk tetap mengikuti perkembangan teknologi informasi yang cepat saja kita tidak bisa tinggal diam, kita harus selalu mengejar ilmu-ilmu baru. Tidak heran jika seringkali seorang pegawai senior dapat "didahului" dalam karier dan tingkat gaji oleh pegawai baru. Jadi, untuk tetap berkiprah, dan meraih sukses berkelanjutan di dunia bisnis yang penuh dinamika, kembali ke sekolah bisa merupakan salah satu pilihan yang perlu diprioritaskan. Langkah apa yang perlu diambil? Agar kembali ke sekolah bisa menunjang sukses, ada beberapa langkah penting yang perlu kita ambil. Tentukan tujuan pendidikan. Sebelum memulai suatu perjalanan, biasanya kita sudah punya tujuan. Demikian juga dengan upaya kembali ke sekolah, tujuan pendidikan perlu kita tentukan agar semua sumber daya yang kita miliki dapat kita gunakan dengan baik untuk meraih tujuan tersebut. Apakah kita ingin melanjutkan pendidikan untuk menunjang karier sekarang? Apakah pendidikan yang akan kita ambil nantinya dapat membantu kita mempertahankan bisnis yang sedang kita bangun atau bahkan membantu kita untuk membangun bisnis baru? Ataukah keinginan melanjutkan pendidikan ini ditujukan untuk mengubah jalur karier? Apa pun tujuan yang kita tentukan, haruslah realistis dan dapat kita pahami dengan jelas. Jika tujuan pendidikan sudah Anda tentukan, akan lebih mudah bagi Anda untuk memilih jenis pendidikan yang tepat untuk Anda. Misalnya, Junita yang sudah enam bulan diangkat sebagai seorang pengelola cabang di sebuah lembaga pendidikan non-formal. Junita yang lulusan S1 jurusan Sastra Inggris merasa perlu mendalami manajemen pendidikan untuk membantunya meraih sukses di posisi yang sekarang ia tekuni. Inilah tujuan pendidikan yang ditentukan Junita: menambah ilmu dan keterampilan dalam mengelola sebuah lembaga pendidikan. Kenali kondisi kita dengan baik. Langkah selanjutnya (sebelum memilih sekolah yang tepat) adalah mengenali diri kita dengan baik: kelemahan dan kekuatan kita. Kita perlu mengidentifikasikan kelemahan dan kekuatan kita agar dapat menyusun strategi yang efektif untuk belajar dan menyelesaikan pendidikan dengan efektif. Jika kita lemah di suatu bidang tertentu, tentu kita perlu mempersiapkan diri lebih serius di bidang tersebut. Untuk bidang- bidang yang telah kita kuasai dengan baik, kita bisa mengajukan "waiver" pada universitas yang kita tuju agar kita tidak perlu mengambil mata kuliah yang sama (tentunya hal ini akan menghemat biaya dan waktu). Kita juga perlu mengidentifkasikan minat kita, yaitu subyek-subyek yang kita senangi dan subyek-subyek yang kurang menarik perhatian kita. Aspek lain yang perlu kita kenali juga adalah pendanaan: sejauh mana kita mampu membiayai pendidikan tersebut. Jika kita tidak memiliki sumber dana yang cukup, kita bisa memilih alternatif lain, misalnya pinjaman lunak, atau jika mungkin pinjaman tanpa bunga (dari kantor, bank, teman baik, keluarga, atau kerabat), dan beasiswa. Pertimbangan-pertimbangan ini akan membantu kita dalam menentukan jurusan ataupun konsentrasi pendidikan yang akan kita ambil. Sebagai contoh, masih kita ambil kasus Junita di atas. Ternyata, Junita merasa bahwa ia sangat lemah di bidang matematika dan statistika. Iapun "berguru" pada teman-teman yang dianggap memiliki kekuatan di bidang ini untuk membantunya mempersiapkan diri mengambil Test Potensi Akademik yang dipersyaratkan. Junita merasa bahwa ia sudah memiliki banyak pengalaman di bidang kebahasaan dan akses untuk peningkatan ilmu di bidang ini juga terbuka luas di tempat ia bekerja sekarang. Yang sekarang menjadi kebutuhannya adalah pengetahuan dan keterampilan mengelola sumber daya manusia, yang juga menjadi minat Junita. Pertimbangan-pertimbangan ini membawa Junita kepada keputusan untuk memilih sekolah magister manajemen dengan konsentrasi pada sumber daya manusia. Pilih sekolah yang tepat. Sekolah yang tepat tidak harus merupakan sekolah yang termahal ataupun sekolah yang paling terkenal, melainkan sekolah yang sesuai dengan kondisi kita (baik kemampuan akademis maupun keuangan), dapat memenuhi kebutuhan karier kita dan dapat membawa kita meraih tujuan pendidikan yang telah kita tetapkan sebelumnya. Faktor-faktor yang lain yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan dalam pemilihan sekolah yang tepat adalah status sekolah (akreditasi yang diperoleh), lokasi sekolah, kualitas tenaga pengajar, fakultas dan konsentrasi yang ditawarkan, serta fasilitas yang tersedia. Untuk langkah ketiga ini, Junita memilih sekolah yang ditunjuk oleh perusahaannya yang telah bersedia memberikannya beasiswa karena memang sesuai dengan bidang kerja yang sekarang ia tekuni. Sekolah ini memiliki akreditasi dari pemerintah, dan lokasinya pun tidak terlalu jauh dari tempat Junita bekerja. Sekolah ini juga menawarkan konsentrasi sumber daya manusia yang menjadi minat Junita. Selain itu, beberapa rekan sekerja Junita juga pada saat ini sedang menyelesaikan pendidikan di sekolah ini, sehingga akan lebih mudah baginya untuk mencari teman diskusi dengan kondisi kerja yang serupa. Buat Perencanaan Akademis. Perencanaan ini perlu dibuat untuk mempermudah pemilihan mata kuliah yang harus diambil, jumlah kredit yang harus dikumpulkan, dan topik ataupun judul karya akhir yang akan diselesaikan. Untuk rencana akademis ini, kita bisa mengkonsultasikannya pada dosen pembimbing, ataupun penasihat akademis yang ditunjuk. Jika pada awal kuliah belum ada penasihat akademis yang ditunjuk, kita bisa bertanya pada dosen yang bisa membantu kita, pada senior kita di kampus, ataupun pada atasan kita untuk memberi masukan yang bisa kita pertimbangkan. Junita bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengelola sumber daya manusia di cabang yang ia pimpin. Tujuan ini ia konsultasikan pada sang dosen pembimbing di sekolah yang telah ia pilih. Sang pembimbing menganjurkan agar Junita memfokuskan tugas, makalah, dan kasus-kasus yang nantinya harus ia kerjakan pada permasalahan yang menjadi minatnya. Strategi ini akan membantu Junita dalam "menyicil" karya akhir yang harus ia buat nantinya. "Time management". Agar kuliah, keluarga, dan kerja bisa berjalan harmonis, perlu pengaturan waktu yang baik. Sebelum kuliah berjalan, kita perlu memetakan waktu kerja, keluarga, dan sekolah dengan komposisi yang disesuaikan dengan prioritas dan kebutuhan kita. Sedangkan ketika kuliah sudah berjalan, setiap minggu ada baiknya jika kita juga memetakan tugas-tugas kantor, tugas-tugas kuliah, serta waktu untuk keluarga (agar semua kegiatan kita mendapat perhatian yang tepat). Sebelum kuliah berjalan, Junita menanyakan kepada pihak perusahaan, sejauh mana perusahaan bisa memberikan kelonggaran bagi Junita untuk menunjang pendidikannya. Jika kuliah di mulai jam 5, dan kerja selesai jam 5, tentunya akan sulit bagi Junita untuk datang tepat waktu ke tempat kuliah. Junita meminta izin kepada atasannya untuk membebaskan Junita lebih awal pada Senin, Rabu, dan Jumat, yakni hari-hari ia harus kuliah. Setiap minggu, Junita juga membuat jadwal kegiatannya yang mencakup kegiatan kantor, kuliah, dan keluarga, sehingga ia bisa berusaha sebaik mungkin menyeimbangkan ketiga dunia kegiatan tersebut. Dalam menyusun jadwal, Junita memperhatikan prioritas-prioritas yang telah ditetapkannya. Bisa saja pada minggu ini, prioritas adalah pada kerja, karena ada proyek yang jatuh tempo, sedangkan pada minggu berikutnya, prioritas adalah pada kuliah, karena ada ujian tengah semester, sedangkan pada minggu yang selanjutnya, prioritas pada keluarga karena anak-anak sedang liburan. Adakah alternatif lain? Sekolah formal adalah salah satu cara untuk menambah ilmu dan keterampilan. Ada banyak alternatif lain yang bisa kita lirik untuk meningkatkan diri, jika ternyata sekolah formal belum merupakan pilihan, ada banyak "sekolah alternatif" yang bisa kita jajaki, antara lain adalah kursus singkat di bidang yang kita minati, pelatihan pendek di bidang baru yang belum kita ketahui, ataupun sekolah jarak jauh alias universitas terbuka. Alternatif lain yang juga tidak kalah menariknya adalah ikut menjadi anggota organisasi profesi ataupun klub-klub yang menawarkan diskusi untuk topik-topik yang kita minati. Untuk alternatif-alternatif ini, kita bisa coba cari di internet, tanya pada teman-teman seprofesi, mencari informasi dari brosur ataupun buku-buku panduan yang bisa kita dapatkan dari perusahaan penyelenggara. Kita juga bisa mencoba untuk mendidik diri sendiri dengan membaca buku, majalah, jurnal ilmiah, artikel, berdiskusi dengan para pakar, ataupun menulis tentang topik- topik yang kita minati. Jadi ada banyak cara untuk kembali ke "sekolah". Yang terpenting dari semuanya adalah keinginan untuk selalu meningkatkan diri. Untuk melakukan yang satu ini dengan sukses kita perlu menumbuhkan antusiasme dalam belajar, sehingga belajar menjadi lebih mudah, dan lebih menyenangkan. Selamat berjuang untuk kembali ke "sekolah"!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home